a collection of thoughts by reno nismara

“It’s an orgasmic world” -Reno Nismara-

Posts Tagged ‘Reviews

Those Shocking Shaking Days, Ulasan Lagu Demi Lagu

leave a comment »

Seperti yang kita tahu, Those Shocking Shaking Days: Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock and Funk 1970 – 1978 telah menuai banyak pujian dari berbagai pihak, baik itu seorang ikon hardcore bernama Henry Rollins, pemeran Frodo dalam trilogi Lord of the Rings, maupun sebuah majalah Amerika Serikat dengan nama Spin yang memberikan antologi berisi 20 lagu dari band-band Indonesia terpilih pada dekade ’70-an yang sempat terlupakan ini nilai delapan dari sepuluh. Namun, bagaimana sebenarnya warna setiap lagu yang ada di album rilisan Now-Again Records milik Eothen “Egon” Alapatt ini? Saya mengulasnya lagu demi lagu.

1. Panbers – “Haai” (1972)
Ode untuk rock n’ roll dan psikedelia pada khususnya dan musik pada umumnya, lengkap dengan bebunyian sitar dan lirik “I like Beatles songs/I love Rolling Stones/I love Led Zeppelin/But also the Panbers I love”. Pada lagu ini, Benny Pandjaitan meneriakkan nada-nada tinggi yang mengingatkan kita akan vokal Perry Farrell. Hanya saja, vokalis Jane’s Addiction tersebut baru berumur 13 tahun ketika lagu ini dirilis.

2. The Brims – “Anti Gandja” (1972)
Lagu trippy yang meneriakkan semangat anti obat-obatan terlarang. Tidak ada lagi lagu dengan konsep se-paradoks ini dalam sejarah musik Indonesia.

3. Rollies – “Bad News” (1972)
Sebuah lagu funk yang menghentak seru karena kekompakan setiap personil dalam memainkan instrumennya masing-masing. Belum lagi, suara serak nan bertenaga dari Bangun Sugito, lebih dikenal dengan nama Gito Rollies, yang mengingatkan kita akan masa jaya “The Godfather of Soul”, James Brown.

4. Shark Move – “Evil War” (1973)
Sebuah antologi wajarnya memiliki lagu-lagu yang mewakili sisi uptempo dan sisi ballad, dan “Evil War” dapat mewakili keduanya. Shark Move meleburkan kedua sisi tersebut dengan takaran yang pas pada lagu bertema politik ini. Dan tanpa lagu ini, antologi Those Shocking Shaking Days tidak akan pernah ada.

5. Golden Wing – “Hear Me” (1972)
Kuintet asal Palembang, Sumatera Selatan ini menciptakan istilah “Indo Rock Sound”, yang mereka gunakan untuk menyebutkan musik yang menggabungkan melodi Indonesia dengan pengaruh musik Barat. Dan lagu ini adalah contoh paling tepat dari istilah tersebut.

6. AKA – “Do What You Like” (1971)
Lagu pertama dari dua lagu AKA yang ada di antologi ini diselimuti oleh aura pemberontakan kental yang tergambarkan dengan jelas dari lirik yang dinyanyikan oleh frontman tereksplosif dan paling teatrikal dalam sejarah musik Indonesia, Ucok Harahap.

7. IVO’s Group – “That Shocking Shaking Day” (1974)
Sebuah lagu pop psikedelik merdu nan apik yang menunjukkan bahwa band ini mendambakan demokrasi di Indonesia. Dari lagu inilah judul antologi Those Shocking Shaking Days berasal.

8. Ariesta Birawa Group – “Didunia yang Lain” (1973)
Suling yang mengalun merdu, perkusi yang primitif, gitar fuzzy yang bising, dentuman bass yang empuk, dan lirik melankolis soal putus cinta dengan sudut pandang multidimensional. Indonesia membutuhkan lebih banyak band seperti ini.

9. Terenchem – “Jeritan Cinta” (1971)
Sebuah ballad dengan suara gitar menyayat serta drum dan bass saling bersahutan yang berada di jalur yang sama dengan lagu-lagu dari band hard-rock asal Inggris, Egg.

10. Benny Soebardja and Lizard – “Candle Light” (1976)
Selain Shark Move, ini adalah band kedua dengan Benny Soebardja sebagai frontman pada antologi ini. Berbeda dengan Shark Move yang memainkan musik rock progresif, Benny Soebardja and Lizard mengusung musik funk manis yang mengasyikkan. Lagu yang ditujukan untuk teman dekatnya yang ketika itu baru saja meninggal ini bisa dijadikan sebagai bukti.

11. Super Kid – “People” (1976)
Sebuah lagu langka yang terdengar seperti diciptakan oleh seorang musisi jenius berkulit hitam dari roster label rekaman asal Amerika Serikat ternama, Motown Records. Begitu langkanya lagu ini, salah satu personil Superkid, Deddy Dores, ketika dihampiri untuk membicarakan lisensi lagu ini mengaku tidak ingat bahwa dirinya pernah merekam dan merilis lagu dengan judul “People”.

12. Koes Plus – “Mobil Tua” (1976)
Tanpa diragukan, mereka adalah band terbesar dalam sejarah musik Indonesia. Dan lagu yang dinyanyikan oleh Murry, drummer dan satu-satunya personil yang tidak memiliki darah Koeswoyo, ini adalah salah satu dari sekian banyak alasannya.

13. The Gang of Harry Roesli – “Don’t Talk About Freedom” (1971)
Harry Roesli, seniman papan atas Indonesia yang sering membicarakan soal ketidakadilan sosial pada lirik-lirik lagunya, menunjukkan kegeramannya atas rezim Soeharto pada lagu berdurasi 8 menit lebih 18 detik ini. Dan hebatnya, hal tersebut bisa ditangkap dengan jelas walau lagu ini dapat dikategorikan sebagai sebuah lagu instrumental.

14. Black Brothers – “Saman Doye” (tidak diketahui)
Kecenderungan oktet asal Papua Barat ini dalam menyanyikan lagu dengan bahasa Papua dan penggunaan kostum kesukuan pada setiap konser tidak menciptakan jarak antara mereka dengan pendengar yang masih buta akan kebudayaan Papua Barat. Terima kasih kepada aransemen-aransemen orisinil nan luar biasa yang mereka ciptakan, seperti pada versi funk-rock dari sebuah lagu tradisional Papua Barat ini.

15. AKA – “Shake Me” (1975)
Lagu kedua dari AKA pada antologi ini bercerita soal seks tanpa ikatan yang diiringi aransemen funk-rock dengan progresi beragam. Belum ada lagi band seliar sekaligus secerdas ini.

16. Rasela – “Pemain Bola” (1972)
Selain lagu-lagu yang tersebar di dalamnya, susunan lagu dari Those Shocking Shaking Days juga patut untuk diberi acungan jempol. Setelah sebuah lagu tentang seks, kita langsung diberikan lagu polos yang sederhana dan playful yang sesuai dengan judulnya, bercerita soal olahraga favorit masyarakat Indonesia, yaitu sepak bola.

17. Freedom of Rhapsodia – “Freedom” (1972)
“I don’t care if the government won’t stay out of my life/I want freedom, freedom like a bird/I want to walk and sleep anywhere I want”, begitulah keseluruhan lirik lagu ini yang dinyanyikan secara berulang-ulang. Dan hal tersebut sudah menjadi alasan yang cukup bagi seseorang untuk mendengarkan lagu ini. Plus, pada lagu inilah momen paling heavy Those Shocking Shaking Days berada.

18. Rhythm Kings – “The Promise” (1970)
Purba Bersaudara, kakak beradik yang menggawangi Rhythm Kings, adalah sekelompok straight edge sebelum Ian MacKaye mengalami mimpi basah. Terbukti dari prinsip 3M mereka, menjaga nama baik, menjauhi narkotika, mengutamakan sekolah, yang jauh dari konsep rock n’ roll. Namun, hal tersebut tidak membuat mereka lembek. Justru sebaliknya, seperti yang terdengar pada lagu ini.

19. Duo Kribo – “Uang” (1978)
Satu lagi lagu dengan Ucok Harahap di dalamnya. Namun, kali ini ia tidak bersama AKA, melainkan dengan Duo Kribo, band yang dibentuknya bersama vokalis God Bless, Achmad Albar. Lagu yang dipenuhi dengan pertanyaan kritis seputar alat tukar ini menjadi bukti bahwa nama besar mereka berdua bukanlah tanpa sebab.

20. Murry – “Pantun Lama” (1975)
Sebelum menjadi drummer Koes Plus, Murry sempat menjadi penyanyi solo. Seberapa besar kontribusi Murry dalam kesuksesan Koes Plus dapat terdengar di lagu ini, yang aransemennya tidak jauh berbeda dengan lagu Koes Plus yang terdapat di Those Shocking Shaking Days, “Mobil Tua”.

 

Tulisan ini juga terdapat pada situs Rolling Stone Indonesia.

Advertisements

Berbeda Media, Beda Pula Nilainya

with 9 comments

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2008, saya dan kedua teman saya menghabiskan malam menonton sebuah film karya Riri Riza yang didasarkan oleh sebuah novel buatan Andrea Hirata berjudul sama, yaitu Laskar Pelangi.

Awalnya, saya tidak begitu tertarik untuk menonton film ini, namun setelah menerima sebuah pesan singkat dari bapak kandung saya, yang biasa saya panggil dengan Uchok, yang berisi “Udah nonton Laskar Pelangi? Wajib”, saya mendadak tertarik untuk menonton film ini. Mengapa? Uchok adalah orang yang sangat pemilih dalam menilai bagusnya sebuah film, terutama film Indonesia. Dan saya hampir selalu berpikiran sama dalam menilai film-film tersebut. Singkat cerita, saya pun berangkat untuk menonton film tersebut bersama kedua teman saya tersebut.

Lalu, bagaimana penilaian saya terhadap film itu?

Hmmm…Sinematografi? Bagus. Sang sinematografer sangat memanfaatkan keindahan Pulau Belitong untuk dijadikan sebagai konsentrasi pengambilan gambar. Cerita? Klise memang, namun ini adalah sebuah kisah nyata, jadi sesuatu yang klise itu adalah sesuatu yang sangat lumrah di sebuah kisah nyata. Jika tidak ingin melihat keklisean suatu film, lebih baik tonton saja film-film fiksi yang lain. Akting? Sangat bagus, terutama aktor-aktor cilik yang asli berasal dari Pulau Belitong. Mereka membuktikan bahwa untuk menjadi seorang aktor berkualitas itu tidak selalu diperlukan studi di bidang tersebut. Editing? Kurang. Masih banyak pemotongan-pemotongan gambar yang kasar muncul di film ini. Penyutradaraan? Cukup. Mengapa? Riri Riza kurang berani untuk keluar dari comfort zonenya, alhasil film menjadi sedikit monoton. Namun, Riri sangat berhasil dalam membimbing aktor-aktor yang bermain di film ini agar mereka mengeluarkan seluruh emosinya dengan sungguh-sungguh. Total? Film ini saya beri nilai 3,5 dari 5.

Sebenarnya di tulisan saya ini, saya tidak bertujuan untuk menilai film tersebut. Hal itu hanya untuk menjembatani opini utama yang saya ingin bicarakan di tulisan saya ini. Apa itu?

Sebelum menonton film tersebut, saya mendengar opini-opini teman-teman saya yang mengatakan bahwa film ini lebih bagus dari bukunya. Ada juga yang berkata bahwa bukunya lebih bagus dari filmnya. Bagaimana dengan saya? Saya selalu berpikir bahwa buku dan film adaptasinya tidak bisa disandingkan dan tidak bisa dinilai secara bersamaan. Mengapa? Pertama, dua hal itu jelas-jelas adalah media yang berbeda. Kedua, buku memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh film, hal itu adalah imajinasi. Ya, imajinasi. Isi dari buku itu terdiri dari tulisan-tulisan yang memaksa kita untuk berimajinasi dalam suatu  situasi, dan imajinasi itu akan berbeda-beda tergantung dari imajinasi yang dihasilkan oleh setiap orang. Sedangkan film? Film itu jelas adalah suatu bentuk visual yang dibuat oleh sang sutradara berdasarkan imajinasinya dari membaca suatu buku tersebut. Kedua alasan ini saja sudah cukup jelas untuk mengatakan bahwa buku dan film adaptasinya itu sangat tidak bisa disandingkan. Mari kita ambil contoh buku dan film The Da Vinci Code.

Buku karya Dan Brown ini sangat bagus, si penulis dengan pintarnya memadukan unsur fakta dan fiksi dari berbagai macam religi, sehingga membuat kita penasaran mana yang fakta dan mana yang fiksi dari religi tersebut. Alhasil, buku ini pun menjadi sebuah fenomena dan sangat laku di pasaran dunia. Sedangkan filmnya? Sangat datar, bahkan sangat kosong. Apakah ini karena bukunya terlalu bagus atau karena sang sutradara Ron Howard tak mampu memvisualisasikan buku tersebut? Jawaban saya adalah pilihan yang kedua. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kualitas buku yang lebih baik dari film, melainkan karena ketidakmampuan sang sutradara untuk menyutradarai film tersebut, karena sang penulis menulis cerita yang tidak detail, karena sinematografi yang melenceng dari tema, dan mungkin karena akting dari aktor-aktor film bersangkutan kurang baik. Bagaimana menurut anda?

Written by Reno Nismara

October 29, 2008 at 8:26 pm

A Breakthrough in the Graphic Novel World

with 4 comments

Ever seen this logo in a bookstore (especially comic book store)?

For all of you who said yes, just shut up for a bit. I want to explain a thing or two about this creative graphic novel publishing company to those who said no.

First thing, let me tell you that Vertigo Comics is an imprint of DC Comics (I don’t have to explain this major comic publisher who is responsible for the story of Superman, Batman, and Wonder Woman, do I?) that is founded in 1993 by Karen Berger, who was originally the assistant editor at DC Comics. The graphic novels that are publish by Vertigo Comics is quite unique, because it is marketed for late teen and adult readers. This kind of thing is very rare in the major comic industry in United States, because in United States people usually loves simple superhero stories. But Vertigo Comics? They publish an alternative for those who are bored with a simple superhero stories. What are the alternatives? Quite like these…

From all those covers above, we could see that Vertigo Comics is giving their late teen and adult readers some fresh, sophisticated, and quality alternative graphic novels. The graphic novels from Vertigo are usually contains graphic violence, crude humor, foul language, sex and nudity, drug use, and controversial subjects in the form of horror and fantasy genres. But that doesn’t mean that Vertigo Comics is just using controversial matters to make them famous, because they balance the controversial subjects with quality storytellings, smart dialogs, great pacing, colorful characters, and of course uniquely interesting artwork. Want prove? The company have won many Eisner Awards (Academy Awards equivalent for comic books), including Best Continuing Series (Sandman, Preacher, 100 Bullets, and Fables). There are also some Vertigo Comics’ graphic novels that are already being adapted to the big screen, like V for Vendetta, Hellblazer (Constantine), A History of Violence, and Stardust.
Still want prove? Here, I give you a synopsis of my favorite title from Vertigo Comics, which is Preacher, and you tell me whether it’s just controversy or quality. Deal?
Preacher tells the story of Jesse Custer, a depressed preacher in the small Texas town of Annville. Custer was accidentally possessed by the supernatural creature named Genesis in an incident which killed his entire congregation and destroyed his church. Genesis, the product of the unauthorized, unnatural coupling of an angel and a demon, is an infant with no sense of individual will. However, as it is composed of both pure goodness and pure evil, it might have enough power to rival that of God himself. In other words, Jesse Custer, bonded to Genesis, may have become the most powerful being in the whole of living existence. Custer, driven by a strong sense of right and wrong, goes on a journey across the United States attempting to (literally) find God, who abandoned heaven the moment Genesis was born. He also begins to discover the truth about his new powers, which allow him to command the obedience of those who hear his words. He is joined by his old girlfriend Tulip O’Hare, as well as a hard drinking Irish vampire named Cassidy.
Before this post reach the end, I have to confess first that I completely snatch that synopsis straight from Wikipedia, with a bit editing of course. But I did that just for you, so you can get the most detailed synopsis about Preacher. If I made the synopsis myself, I am not sure that you can get a detailed synopsis. By the way, what do you think about Preacher based on the synopsis? Is it quality or simply controversial? For me, it is both, with a twist.

Written by Reno Nismara

September 26, 2008 at 2:24 pm