a collection of thoughts by reno nismara

“It’s an orgasmic world” -Reno Nismara-

Archive for October 2008

Berbeda Media, Beda Pula Nilainya

with 9 comments

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2008, saya dan kedua teman saya menghabiskan malam menonton sebuah film karya Riri Riza yang didasarkan oleh sebuah novel buatan Andrea Hirata berjudul sama, yaitu Laskar Pelangi.

Awalnya, saya tidak begitu tertarik untuk menonton film ini, namun setelah menerima sebuah pesan singkat dari bapak kandung saya, yang biasa saya panggil dengan Uchok, yang berisi “Udah nonton Laskar Pelangi? Wajib”, saya mendadak tertarik untuk menonton film ini. Mengapa? Uchok adalah orang yang sangat pemilih dalam menilai bagusnya sebuah film, terutama film Indonesia. Dan saya hampir selalu berpikiran sama dalam menilai film-film tersebut. Singkat cerita, saya pun berangkat untuk menonton film tersebut bersama kedua teman saya tersebut.

Lalu, bagaimana penilaian saya terhadap film itu?

Hmmm…Sinematografi? Bagus. Sang sinematografer sangat memanfaatkan keindahan Pulau Belitong untuk dijadikan sebagai konsentrasi pengambilan gambar. Cerita? Klise memang, namun ini adalah sebuah kisah nyata, jadi sesuatu yang klise itu adalah sesuatu yang sangat lumrah di sebuah kisah nyata. Jika tidak ingin melihat keklisean suatu film, lebih baik tonton saja film-film fiksi yang lain. Akting? Sangat bagus, terutama aktor-aktor cilik yang asli berasal dari Pulau Belitong. Mereka membuktikan bahwa untuk menjadi seorang aktor berkualitas itu tidak selalu diperlukan studi di bidang tersebut. Editing? Kurang. Masih banyak pemotongan-pemotongan gambar yang kasar muncul di film ini. Penyutradaraan? Cukup. Mengapa? Riri Riza kurang berani untuk keluar dari comfort zonenya, alhasil film menjadi sedikit monoton. Namun, Riri sangat berhasil dalam membimbing aktor-aktor yang bermain di film ini agar mereka mengeluarkan seluruh emosinya dengan sungguh-sungguh. Total? Film ini saya beri nilai 3,5 dari 5.

Sebenarnya di tulisan saya ini, saya tidak bertujuan untuk menilai film tersebut. Hal itu hanya untuk menjembatani opini utama yang saya ingin bicarakan di tulisan saya ini. Apa itu?

Sebelum menonton film tersebut, saya mendengar opini-opini teman-teman saya yang mengatakan bahwa film ini lebih bagus dari bukunya. Ada juga yang berkata bahwa bukunya lebih bagus dari filmnya. Bagaimana dengan saya? Saya selalu berpikir bahwa buku dan film adaptasinya tidak bisa disandingkan dan tidak bisa dinilai secara bersamaan. Mengapa? Pertama, dua hal itu jelas-jelas adalah media yang berbeda. Kedua, buku memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh film, hal itu adalah imajinasi. Ya, imajinasi. Isi dari buku itu terdiri dari tulisan-tulisan yang memaksa kita untuk berimajinasi dalam suatu  situasi, dan imajinasi itu akan berbeda-beda tergantung dari imajinasi yang dihasilkan oleh setiap orang. Sedangkan film? Film itu jelas adalah suatu bentuk visual yang dibuat oleh sang sutradara berdasarkan imajinasinya dari membaca suatu buku tersebut. Kedua alasan ini saja sudah cukup jelas untuk mengatakan bahwa buku dan film adaptasinya itu sangat tidak bisa disandingkan. Mari kita ambil contoh buku dan film The Da Vinci Code.

Buku karya Dan Brown ini sangat bagus, si penulis dengan pintarnya memadukan unsur fakta dan fiksi dari berbagai macam religi, sehingga membuat kita penasaran mana yang fakta dan mana yang fiksi dari religi tersebut. Alhasil, buku ini pun menjadi sebuah fenomena dan sangat laku di pasaran dunia. Sedangkan filmnya? Sangat datar, bahkan sangat kosong. Apakah ini karena bukunya terlalu bagus atau karena sang sutradara Ron Howard tak mampu memvisualisasikan buku tersebut? Jawaban saya adalah pilihan yang kedua. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kualitas buku yang lebih baik dari film, melainkan karena ketidakmampuan sang sutradara untuk menyutradarai film tersebut, karena sang penulis menulis cerita yang tidak detail, karena sinematografi yang melenceng dari tema, dan mungkin karena akting dari aktor-aktor film bersangkutan kurang baik. Bagaimana menurut anda?

Advertisements

Written by Reno Nismara

October 29, 2008 at 8:26 pm

Angan yang Terkronologi

with 15 comments

Bukan maksud untuk merendahkan bahasa dari sebuah bangsa, tulisan saya yang sebelum-sebelumnya selalu meggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama, bahkan bahasa satu-satunya. Saya melakukan hal itu agar tulisan-tulisan saya bisa dibaca oleh semua orang di belahan bumi mana pun dan agar mereka-mereka yang membaca di kejauhan itu bisa meninggalkan komentar dan nasehat utuk saya. Kenapa bahasa Inggris dan bukan bahasa Cina atau Prancis atau bahkan Sunda? Jelas karena itu adalah bahasa yang sangat universal, dan karena saya hanya bisa menguasai bahasa itu selain bahasa Indonesia tentunya.

Mengapa kali ini saya menggunakan bahasa Indonesia di tulisan saya ini?

Karena saya ingin membuktikan bahwa bahasa Indonesia juga merupakan bahasa yang sangat indah dan juga bisa untuk dijadikan media seni, dalam hal ini sastra. Mungkin yang saya tulis dalam tulisan ini tak ada hubungannya dengan sastra, namun saya akan berusaha untuk membuat tulisan berbahasa Indonesia saya ini menjadi terdengar indah, terbaca indah, atau mungkin hanya sekedar terlihat indah. Saya juga ingin membuktikan bahwa saya masih mencintai bahasa Indonesia dan masih menggunakannya dengan rasa kebanggaan yang teramat sangat.

Cukup dengan intermezzonya, mari saya mulai tulisan saya yang satu ini dengan menjelaskan mengapa saya menulis dengan tema seperti ini. Apa temanya? Angan, cita-cita, keinginan atau apapun kata-kata yang bersinonim dengan hal itu. Ya, saya ingin membicarakan angan saya secara kronologis. Angan yang sangat saya ingin lakukan dalam waktu dekat ini atau bahkan dalam waktu yang masih sangat lama. Dan ini bukan sekedar angan yang sering kita bicarakan ketika kita kecil, ketika kita ingin menjadi ABRI, dokter, atau bahkan pahlawan dengan kekuatan super. Angan yang saya ingin bicarakan di sini adalah sesuatu yang lebih realistis dan lebih terspesifikasi. Ingat, angan yang saya bicarakan di sini adalah angan saya sendiri. Jangan dijadikan acuan yang terlalu berlebihan. Jadikan ini hanya sekedar sebagai hiburan dan referensi.

Biarkan saya memulai angan saya yang terkronologi ini…

1. Lulus kuliah dalam waktu dekat ini tanpa ada mata pelajaran yang mengulang. Klise memang, namun sangat penting. Lagipula, saya sudah sangat jenuh dengan kehidupan perkuliahan, seperti tugas yang menumpuk, ujian yang sangat menyusahkan, dan pengumuman nilai yang sangat menegangkan.

2. S2 di bidang bisnis hiburan, entah itu film, televisi, musik, atau apa pun juga yang masih berkelut di dunia hiburan. Mengapa? Karena menurut saya sendiri, bidang itulah yang sangat saya kuasai dan saya sukai. Sangat banyak orang yang berkata bahwa kerja di bidang yang disukai adalah sangat nikmat dan akan sangat puas jika kita sukses di bidang yang disukai tersebut. Menurut saya tidak telat jika kita memulai mempelajari dan memahami hal yang disukai tersebut di jenjang S2.

3. Karir di bidang hiburan. Ya, setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang S2, saya akan memulai karir di bidang hiburan. Saya akan memulai dari bawah dan akan memulai dengan bekerja untuk orang dan digaji oleh orang. Peduli setan dengan idealisme di awal karir.

4. Bermusik sebagai kerja sampingan yang sedikit serius. Mengapa sedikit serius? Karena apabila proyek ini berhasil, bukan tidak mungkin jika saya akan serius berkonsentrasi di bidang musik dan berhenti digaji oleh orang lain. Musik yang akan saya jalani adalah musik yang berada di garis tengah antara idealisme dan komersialisme.

5. Menghancurkan gitar di akhir sebuah konser band saya sendiri. Ya, seperti Pete Townshend, Jeff Beck, Mick Jones, dan Kurt Cobain di dekade-dekade sebelumnya.

tkaaposter1

6. Memulai bisnis sendiri. Bisinis yang saya maksud di sini adalah bisnis hiburan tentunya, yang bergerak di berbagai macam bidang. Musik? Ada. Film? Ada. Televisi? Ada. Majalah? Ada. Radio? Tidak ada.

7. Melakukan sebuah “trip” bersama sekelompok teman di Joshua Tree yang terletak di Nevada. Hal ini ingin sekali saya lakukan karena saya baru saja menonton sebuah episode dari Entourage yang memperlihatkan kejadian ini. Mereka menikmati pemandangan Joshua Tree tersebut dengan menkonsumsi sebuah makanan yang membuat mereka berimajinasi sembari menikmati pemandangan Joshua Tree yang sangat indah. Tempat ini pun sampai dijadikan judul album oleh sebuah grup band sekaliber U2.

8. Menikah dan memiliki dua anak (pria dan wanita) dengan seseorang yang memiliki kegemaran yang sama. Mengutip kalimat dari sebuah film, sepasang kekasih bisa dikatakan jodoh jika mereka memiliki suatu kegemaran yang sama di suatu hal yang tak biasa. Saya sangat setuju dengan kalimat itu.

9. Menikmati pertandingan sepak bola secara langsung di Old Trafford. Di tulisan saya yang sebelum-sebelumnya saya sudah menjelaskan bahwa saya sangat menyukai Manchester United, dan saya sangat ingin melihat mereka bertanding secara langsung di kandangnya sendiri.

10. Keliling dunia. London, New York, Paris, Abu Dhabi, Hong Kong, Pyong Yang, Johannesburg, Roma, Lisbon, Amsterdam, Athena, Jayapura, dan berbagai macam kota lain di dunia amat sangat ingin saya kunjungi.

11. Mengunjungi kemegahan Tuhan di Mekkah. Sekarang saya masih berpikir bahwa ini adalah sebuah formalitas, tapi semoga saja saya akan menjadikan itu kewajiban di masa depan. Amin.

12. Membiayai orang tua untuk melakukan ibadah haji. Tidak jauh beda dengan angan yang sebelumnya. Perbedaan terdapat di tujuan dan jumlah manusia yang pergi ke lokasi. Perbedaan tujuan adalah berterima kasih atas segala yang telah dilakukan oleh orang tua. Jumlah manusia ditambah dengan orang tua tersebut. Amin.

13. Hidup tenang. Pada masa tua, pensiun akan dirasakan. Di masa pensiun ini saya ingin sekali untuk hidup tenang tanpa beban dengan istri, anak-anak, dan cucu-cucu.

14. Mati berdiri. Ya, mati berdiri. Mengapa? Saya juga tidak tau mengapa. Mungkin karena saya ingin kematian saya terasa sangat megah dan unik di saat yang bersamaan.

15. Masuk surga. Siapa yang tidak ingin?

Written by Reno Nismara

October 22, 2008 at 6:36 pm

The Holy Month has Ended

with 5 comments

No more formality. No more midnight shower. No more hunger and thirst for more than 12 hours. No more waking up at 3. 30 AM. No more no sleep because of a 7. 00 AM class. No more bad breathe. No more waiting. No more smokeless campus. No more 11 raka’at prayer. No more 14045 at 3. 30 AM. No more “Allahumma lakasumtu” and “nawaitu saumagodin”. No more a thousand stars night. No more acting holy in front of everyone. No more envy at those who eat, drink, and smoke. No more traffic before/at/after 6. 00 PM. No more no night club. No more no alcohol. At least until next year. Say no more.

In the mean time, there’s always time to forgive and forgave. Minal aidin wal faizin. Goodbye 1428 H, hello 1429 H. Let’s welcome it with a “bismillah”.

Written by Reno Nismara

October 4, 2008 at 10:00 am